Friday, April 29, 2011

Bertemu dengan Bpk Irnanda Laksanawan, Deputi Kementrian BUMN

Cak dan ning, ini cerita saya mengikuti acara kemarin bertemu dengan pak Irnanda, pada hari Kamis, 28 April kemarin, saya baca lagi kok sepertinya hiperbolik dan berlebihan ya, tapi ga papa ambil hikmah positifnya saja ya. ^_^

Saya baru keluar kantor jam 12 siang karena ada kerjaan, terlalu mepet dengan janji waktu jam 1 siang bertemu dengan pak Irnanda, setelah menerima telpon dari mbak Riris saya bergegas berangkat ga peduli meski bakalan terlambat sampai Jakarta, bayangan saya nanti misalnya terlambat saya tunggu di lobby saja, sekalian pulang bareng bersama rekan lainnya. Dan waktu itu memang macet luar biasa, meski tidak hujan seperti hari sebelumnya, ternyata ada berita polisi menemukan bom di kedutaan Inggris, menyusul minggu sebelumnya ada bom di gereja di Serpong. Saya sampai di tempat jam setengah tiga sore, di gedung kementrian BUMN jalan Medan Merdeka Selatan, terlambat jauh dari waktu yang seharusnya, saya menemui petugas lobby, dia bertanya saya dari mana, saya bilang saya dari ITS, dan bilang kepadanya saya datang terlambat karena macet, dan bertanya apakah dia melihat teman-teman saya yang akan bertemu dengan pak Irnanda, deputi kementrian BUMN, saya dan dikasih ID tamu, dan disarankan menelpon teman. Setelah saya telpon dan tidak diangkat saya ditelpon lagi sama mbak Riris untuk segera naik lift ke lantai C.

Sampai di lantai C saya dijemput mbak Riris dan diantarkan ke ruangan rapat, disana sudah ada teman2 prolead Cak Errika Arsitektur 97, cak Soni Siskal 98, cak Yohannes TI 91, mbak Riris Tekkim 97, mbak Fitri Poltek Kapal 97, sama cak Candra angkatan 2002 temannya mbak Fitri. Ruangan rapat itu dikelilingi belasan foto pesawat PT DI, dan salah satu fotonya ada foto SBY sedang naik tank sepertinya buatan Pindad, dengan tulisan didalam foto itu pameran dirgantara tahun 2009. Ruangan kira-kra berukuran 7 kali 5 meter didalamnya ada dua meja berhadapan di masing-masing sisinya ada delapan kursi di sisi lainnya ada layar buat presentasi dan satu kursi yang menghadap ke slide, di meja ada deretan microphone yang bisa dinyalakan untuk menggunakannya.

Ternyata pak Irnanda belum menemui kami, kami menungu lama, jam setengah empat sore pak Irnanda memasuki ruangan, menyalami kami, dan duduk di seberang meja berhadapan dengan kami, cak Errika memberikan proposal yang kami buatkan, setelah membaca judul proposal "Be Young CEO" dan membuka halamannya, Pak Irnanda memulai ceritanya bahwa tidak hanya ada young CEO, tapi bahkan young president juga ada, Tony Blair menjadi PM Inggris di usia 42 tahun, Vladimir Putin juga menjadi presiden Rusia di usia 40-an, dan Obama dilanjutkan pak Irnanda tidak seperti orang kebanyakan yang bercita-cita menjadi dokter atau insinyur, sejak kecil ketika ditanyai cita-citanya, Obama selalu menjawab bercita-cita menjadi presiden Amerika Serikat. Dilanjutkan pak Irnanda bahwa leader seperti mereka adalah leader by born, bukan leader by trained.

Pak Irnanda Laksanawan alumni mesin (M23), pernah menjabat direktur termuda PT PAL dalam usia 38 tahun, menjabat komisaris Pertamina termuda, dan jabatan lainnya, saat ini sebagai deputi kementrian BUMN, berkantor di jalan Medan Merdeka Selatan, sebelah Balai Kota Jakarta, bersebrangan dengan alun-alun kota Jakarta dan Monas-nya.

Setiap orang itu memiliki talent berbeda-beda, CEO is not the only way in career, seseorang itu tidak harus menjadi CEO, tetapi kita harus menjadi ahli di bidangnya, seperti pemain bola, tidak lantas semuanya harus menjadi striker, tetapi menjadi sesuai fungsinya dan menjadi yang hebat.

Pak Irnanda bercerita ketika lulus tidak mempunyai pikiran akan ketrima kerja dimana, tetapi mempunyai niat untuk membangun bangsa, oleh karena itu beliau mendaftar hanya di tiga tempat perusahaan milik pemerintah, salah satunya BPPT. Sejak sekolah pak Irnanda selalu menjadi ketua kelas dan ketua OSIS, ketika kuliah menjadi ketua senat mahasiswa pertama dari FTI, sekarang pun menjadi ketua pelajar Inggris.

Leader itu pasti ada genetikanya, dan genetika itu tidak bakal berubah meski berusia ribuan tahun, seperti halnya sifat manusia, pak Irnanda bercerita, ketika ayahnya meninggal baru mengetahui ternyata ayahnya adalah ketua senat di Mesin ITB, kakeknya adalah pejuang melawan Belanda, begitu pula bercerita bahwa beliau adalah turunan ke-6 prabu Brawijaya ke-4, di jaman kerajaan Mojopahit. Diceritakan pula bahwa berziarah bersama ibunya yang sudah berusia 70 tahun lebih ke Trowulan, Jombang, yang disebutnya sebagai Center of Excellence, sampai sekarang pun pusat agama, ataupun para petinggi negara harus sowan ke Jombang untuk berhasil.

Seorang leader bukan bertujuan untuk kekuasaan, jika seseorang hanya berkeinginan menjadi CEO, tanpa memiliki niat untuk menjadi leader, maka akan melakukan segala cara untuk kekuasaan, termasuk menyingkirkan teman-temannya, dan begitu pula sebaliknya seorang leader tidak harus seorang CEO. Leader pada hakekatnya adalah seorang yg berkorban untuk yang dipimpinnya, dengan berkorban orang-orang akan menghargainya, pak Irnanda menambahkan tokoh seperti pak Karno dan pak Harto itu juga berkorban, sampai akhir hayatnya mereka tidak dalam kondisi yang bermewahan, pak Irnanda melayat ketika meninggalnya pak Harto, diceritakan bahwa rumah pak Harto rumah tahun 70-an dan tidak direnovasi, hanya anak-anak pak Harto yang nakal, tapi menurut beliau pak Harto hidup sederhana dan selama 32 tahun bekerja untuk negara.

Dilanjutkan pak Irnanda bahwa leader itu harus berperan sebagai coach, memberi empowering, guiding, dan enhancing kepada lingkungannya. Seorang leader adalah seseorang yang berani mengambil resiko, tetapi dengan perhitungan-perhitungan yg matang, mampunyai attitude, vision, willingness to share & to care kepada sesama.

Pak Irnanda selalu berusaha menciptakan leader di semua lini di tempatnya, beliau bercerita bahwa orang itu punya kelebihan & kekurangan sendiri, pak Irnanda memiliki kata-kata bijak, be yourself, do your best, dan terakhir senantiasa menyerahkan kepada yang kuasa. Setiap orang punya obsesi sendiri2, tdak bisa selalu jadi CEO, bekerja sebagai panggilan hati, bekerja dengan hati, jiwa, dan raga. Bekerja sesuai bidang, jangan mencoba mengerjakan beyond your competence, dan dan yang kebih penting menjadi yang terbaik dibidangnya, hal itu bisa dilakukan dengan cara bersaing dengan diri sendiri.

Sebetulnya diantara cerita pak Irnanda yang panjang dan bersemangat saya juga menyampaikan bahwa acara Be Young CEO itu juga tidak bertujuan agar serta merta menjadi CEO, tetapi dalam struktur perusahaan, CEO adalah jabatan seorang pimpinan perusahaan yang jika para alumni merasa mumpuni maka tidak lagi saatnya untuk malu-malu untuk menjadi young CEO di tempat dia bekerja.

Semuanya itu tergantung niat, jangan diniatkan untuk jabatan, tetapi niatkan untuk membangun bangsa, dan niscaya bakal dibukakan jalannya,
dan mengusulkan kegiatannya diubah temah "Be Young CEO" menjadi "Be Young Leader With High Quality Network" dan mematangkan lagi konsep acaranya.

Diantara kesempatan yang bagi saya luar biasa itu, pak Irnanda menerima telepon dari bapak Menteri, di perbincangan telpon, pak Irnanda bilang bahwa ibu Karen Agustiawan--Dirut Pertamina dari ITB-- sedang berada di Hong Kong dan menelpon pak Irnanda tentang apa saya tidak tahu, saya hanya terkagum-kagum di tempat itu. Ketika akhir acara sekitar jam setengah lima, pak Irnanda menyalami kami dan ketika menyalami cak Errika memberi kartu nama dan bercerita kalau aktif di HIPMI Jaya, pak Irnanda menanyakan cak Errika dari jurusan apa, dan ketika bilang dari arsitektur dan yang mendisain semen gresik ternyata rejeki cak Errika diajak ke lantai 7 untuk mendesain ruang kerjanya, "Yang lain boleh pulang, kecuali cak Errika masih harus ikut saya". Wah memang kalau rejeki ga bakalan kemana.

Terus semangat kawan, cak dan ning, mungkin di lain waktu kita bakal ketemu rejeki seperti cak Errika, bertemu dengan pejabat dan mendapatkan project kerjaan. ^_^

Salam,
Imam

1 comment:

Anonymous said...

Intervensi poliitik dan militer yang dilancarkan oleh Rusia ke negara tetangganya yang berdaulat, Ukraina, menimbulkan kekhawatiran bagi negara tetangga yg lain Ceko. Seperti laporan yang dimuat website iyaa.com Menteri Luar Negeri Ceko Lubomir Zaoralek pada Minggu memanggil duta besar Rusia atas keputusan Moskow untuk mengirim pasukan ke wilayah Ukraina, Krimea, untuk menjelaskan langkah Rusia yang "berlebihan dan agresif" itu.